Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Santri Memilih Pondok Pesantren Salafiyah sebagai Tempat Belajar

Factors Influencing Students in Choosing a Salafiyah Islamic Boarding School as a Place of Learning

Authors

  • Faisol Nasar bin Madi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

DOI:

https://doi.org/10.35719/fenomena.v7i1.418

Keywords:

Salafiyah boarding school, santri motivation, traditional Islamic education, Pondok pesantren salafiyah, motivasi santri, pendidikan Islam tradisional

Abstract

Amid the increasingly complex and pragmatic demands of modern education, many Islamic boarding schools in Indonesia have shifted toward formal schooling. However, 21.5% remain salafiyah (traditional) pesantren. This study examines the push factors, expectations, and self-preparedness of santri in such institutions. Using a quantitative regression model (y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + e) with data from 60 respondents at Assalafiah Assyafiiyyah Suger Pesantren, the research finds that ethnicity (99% confidence) and parents’ occupation (90% confidence) significantly influence santri’s motivation to choose a salafiyah pesantren, while age and parental education do not. Beyond religious learning for the afterlife, santri aspire to become kyai and establish their own pesantren. Facing a pragmatic life, they rely on “tawakal” (trust in God) and self-reliance learned in the pesantren, with none seeking formal sector employment. The study concludes that salafiyah pesantren remain relevant for moral and spiritual resilience, and recommends integrating rational reasoning into the curriculum while preserving traditional values.

Di tengah tuntutan kehidupan modern yang semakin kompleks dan pragmatis, banyak pondok pesantren di Indonesia beralih ke pendidikan formal. Namun, 21,5% pesantren tetap mempertahankan model salafiyah (tradisional). Penelitian ini mengkaji faktor pendorong, harapan, dan kesiapan santri di pesantren salafiyah. Dengan model regresi kuantitatif (y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + e) terhadap 60 responden di Pondok Pesantren Assalafiah Assyafiiyyah Suger, ditemukan bahwa etnis/suku bangsa (tingkat kepercayaan 99%) dan pekerjaan orang tua (90%) berpengaruh signifikan terhadap motivasi santri memilih pesantren salafiyah, sementara usia dan pendidikan orang tua tidak berpengaruh. Selain belajar agama untuk bekal akhirat, santri bercita-cita menjadi kiai dan mendirikan pesantren. Menghadapi kehidupan pragmatis, mereka mengandalkan “tawakal” dan kemandirian yang diperoleh di pondok, tanpa satu pun yang bercita-cita bekerja di sektor formal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pesantren salafiyah tetap relevan untuk ketahanan moral dan spiritual, serta merekomendasikan integrasi penalaran rasional ke dalam kurikulum tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Direktorat Jendral Kelembagaan Islam Departemen Agama RI. (2005). Data Statistik. Jakarta.

Dhofer, Z. (1982). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.

Gujarati, D. (1991). Ekonometrika Dasar (2nd ed.). Jakarta: Erlangga.

Jemma Parsons. (2004). Peran Pesantren dan Cita-Cita Santri Putri: Sebuah pembandingan diantara dua pondok pesantren di Jawa. Malang: ACICIS & Universitas Muhammadiyah Malang.

Van Bruinessen, M. (2004, May 23-24). ‘Traditionalist’ and ‘Islamist’ pesantren in contemporary Indonesia. Paper presented at the ISIM workshop on ‘The Madrasah in Asia’.

Downloads

Published

2008-03-03

How to Cite

bin Madi, F. N. (2008). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Santri Memilih Pondok Pesantren Salafiyah sebagai Tempat Belajar: Factors Influencing Students in Choosing a Salafiyah Islamic Boarding School as a Place of Learning. Fenomena, 7(1), 15-24. https://doi.org/10.35719/fenomena.v7i1.418

Similar Articles

1-10 of 416

You may also start an advanced similarity search for this article.